Akhirnya kesampaian juga aku ke Sedudo. Sudah cukup lama aku ingin mengunjungi air terjun ini, namun karena belum ada teman yang available, aku hanya bisa melihat-lihat dari internet dengan penasaran saja. Ditambah lagi adikku bercerita bahwa beberapa bulan yang lalu dia sekeluarga habis dari sana namun kembali sebelum sampai di air terjunnya. Menurutnya, jalannya penuh tanjakan yang sangat terjal, dimana salah satu sisinya berupa jurang .... yang sangat dalam tentunya. Di tanjakan yang sangat terjal tersebut mobilnya berpapasan dengan mobil lain yang membuatnya harus berhenti. Nah sesudah itu terjadilah masalah. Mobilnya tidak kuat jalan ke atas lagi. Akhirnya adikku dan anak2 turun dari mobil, dan suaminya berusaha keras memutar mobil untuk pulang, dipandu oleh beberapa pengendara yang sedang lewat, secara jalan cuma cukup untuk 2 mobil. Pada saat itu sudah jam 4 sore, gerimis dan kabut mulai turun.
Lebaran tahun 2009 ini temanku yang rumahnya Nganjuk mencari teman untuk pulang kampung bareng. Aku jadi ingat Sedudo lagi.
Akhirnya kami menjadwalkan untuk mengunjungi Sedudo menggunakan mobilnya yang masih baru dengan sopir yang berpengalaman. Hm.... Senang banget rasa, penasaranku akhirnya terjawab satu.
Tgl 22 September 09, tepatnya lebaran kedua, jam 06.30 aku berangkat dari rumahku di sisi paling timur Kabupaten Kediri. Sampai di Nganjuk jam 8.00. Setelah temanku selesai berbenah, jam 8.30 kami meluncur ke Sedudo melalui Loceret, jalur arah Kediri. Sedudo ini terletak sekitar 28 km di sebelah selatan kota Nganjuk. Sampai di desa Berbek, jalan belum menanjak. Setelah setengah jam perjalanan, jalan mulai terasa menanjak walaupun belum terlalu terjal. Di kiri kanan jalan, terhampar pemandangan yang indah berupa sawah dengan tanaman utama padi dan jagung. Namun disini tidak banyak ditemui pohon-pohon besar ataupun pinus yang biasanya banyak terdapat di pegunungan. Menurut informasi sopir, dulunya daerah sini juga banyak pohon pinusnya, namun sudah ditebangi oleh masyarakat. Bahkan kami pun melewati bukit yang sedang dipotong/digali. Kurasa tanah itu nantinya dijadikan tanah uruk bangunan, karena berupa tanah merah. Melihat ini... kurasa beberapa tahun lagi bukit-bukit disitu akan hilang satu per satu.
Jalan terus menanjak dengan tanjakan yang semakin terjal. Pemandangan semakin indah, namun kami tidak berani berhenti untuk mengambil foto, karena bisa membahayakan kendaraan lain dan beresiko kendaraan kami sulit naik lagi karena terjal dan sempitnya jalan.
Makin ke atas kami memasuki perkampungan dimana di tiap rumah ditanami pohon mawar merah yang sedang berbunga. Setelah melewati perkampungan, kami melewati persawahan yang unik, dimana semua pematangnya ditanami dengan mawar. Menurut informasi dari supir, mawar2 tersebut nantinya dikirim ke kota-kota lain termasuk Surabaya. Setelah melewati tanjakan yang sangat terjal, kami sampai di perkampungan dimana terdapat pos pemungutan retribusi untuk memasuki kawasan Sedudo. Kami dipungut Rp2000 per orang dan Rp5000 untuk mobil. Tadinya kupikir setelah membayar kami akan segera memasuki areal air terjun. Ternyata kami masih harus melalui tanjakan yang lebih terjal dengan tikungan yang lebih tajam. Hm.... aku rasa disini yang membuat adikku gagal melanjutkan perjalanan. Memang untuk kesini pengendara haru benar2 biasa mengendalikan mobil di tanjakan terjal.
Jam 09.30 kami memasuki desa Ngliman. Ini merupakan desa terakhir sebelum memasuki areal wisata Sedudo. Setelah melewati desa, akhirnya kami melihat 3 air terjun dari kejauhan. Sayangnya kami tidak berani berhenti lagi karena berada di tanjakan.
Tak lama kami sampai di tempat dimana mobil2 diparkir. Menurut petugas yang kami tanya, mobil sengaja diparkir disitu karena di dalam digunakan untuk parkir sepera motor dan nantinya akan sulit untuk keluar bila mobil juga masuk.
Kami berjalan kaki sekitar 100 meter menuju pintu gerbang sambil sesekali memotret air terjun yang kelihata semakin jelas. Air terjun yang kelihatan tinggal 1 yaitu air terjun Sedudo. Air terjun Sedudo ini berada di ketinggian +/- 1.438m dpl, dengan ketinggian air terjun 105m. Karena tingginya, dari jarak jauhpun kita bisa melihat bagian atasnya.
Jalan menuju air terjun berupa tangga semen buatan yang dibuat berbelok-belok, sehingga pada saat menuruninya kita tidak terlalu merasakan kecuramannya. Sepanjang tangga tersebut kita bisa menikmati pemandangan air terjun, walaupun baru bagian atasnya yang terlihat. Setelah sampai di posisi dimana kami bisa melihat seluruh air terjun secara lengkap, terlihat air terjun ini sangat tinggi. Sepertinya ini merupakan air terjun tertinggi yang pernah saya kunjungi. Lebih tinggi dari air terjun Madakaripura. Karena tingginya tersebut, apabila dipotret lengkap, air terjun akan kelihatan kecil. Di bawah air terjun dibuat kolam yang dimanfaatkan pengunjung untuk mandi. Pada saat kami datang, pengunjung yang mandi cukup banyak, secara ada kepercayaan bila kita mandi di air terjun ini maka kita akan awet muda.
Dari tangga kami melihat beberapa penjual makanan yang khas di bawah. Makanan tersebut adalah nasi dari jagung, urap2an dengan lauk ikan asin, tempe, tahu goreng dan peyek. Selain itu beberapa orang menjual gorengan tahu, tempe dan jagung bakar.
Setelah puas menikmati air terjun, kami makan gorengan dan minum kopi sebentar sebelum pulang. Kembali ke atas, kami mencoba melalui jalan sesuai petunjuk yang ada. Ternyata jalan ini lebih jauh dan curam. Selanjutnya kami pun menuju destinasi berikutnya, yaitu Candi Ngetos.
CANDI NGETOS
Berada di desa Ngetos, sekitar 15 km dari Nganjuk, merupakan candi dari batu bata yang dibangun pada masa Majapahit. Disini cuma ada satu candi, tidak begitu besar. Sayangnya pada saat kesana, pintu pagar candi terkunci.
RORO KUNING
Destinasi kami selanjutnya adalah air merambat Roro Kuning. Kemungkinan air terjun ini disebut air merambat karena type aliran airnya yang menempel di dinding tebing seperti Curug Cigamea.
Di sisi kiri kanan jalan menuju Roro Kuning dikelilingi hutan pinus, sehingga perjalanan menuju air terjun ini lebih menyenangkan karena melewati jalan yang sejuk.
Seperti pada umumnya jalan ke air terjun lainnya, jalan ke air terjun ini juga menanjak, namun tidak seterjal jalan ke Sedudo. Di hutan pinus banyak batu-batu besar berserakan seperti batu dari letusan dari gunung berapi. Di batu tersebut banyak remaja duduk beristirahat sambil menikmati sejuknya hutan pinus.
Sesampai di lokasi parkir kami baru tahu kalau akan ada pentas orkes. Sehingga untuk masuk kami dikenai tarip menonton orkes. Karena berpikir bahwa di dalam nanti terlalu banyak orang dan kami malas membayar tarip orkes, akhirnya kami tidak jadi masuk. Semoga aku bisa ke air terjun ini saat pulang kampung yang akan datang. Jam 1 siang kami beranjak pulang.
Thursday, May 27, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment